Who am I? “I’m a Servant Leader”

18 Apr 2017

Saya orang Nias dan seorang mahasiswa. Secara kasat mata, saya tidak ada hubungan dengan DKI, apalagi gubernur. Tapi kesadaran saya akan pemimpin yang lahir dari masyarakat menuntut saya sebagai warga negara Indonesia peka terhadap ibu kota Negara, terkhusus dalam pemilihan gubernur DKI Jakarta. Serba-serbi alur pemilihan orang nomor 1 di DKI Jakarta tidak hanya mengundang komentar para pejabat, pelajar, bahkan kalangan yang terabaikan di mata orang pun ikut mengisi catatan berbagai media serta meramaikan Jakarta meskipun pada akhirnya tak terhitungkan. Berita hangat terus mengalir menuju pelosok-pelosok bahkan sampai pada level Internasional.

Pilkada DKI Jakarta adalah suatu moment bagi setiap orang yang bijak untuk menjadikan kesempatan tersebut menjadi sesuatu yang berharga, baik di bidang pendidikan, politik, agama, etnis, bahkan sebagai pembelajaran secara personal. Pada putaran ke dua Pilkada DKI dipenuhi dengan kekreatifan anak muda, keberanian berpikir, berkeyakinan dan bertindak, perlawanan dari berbagai sudut golongan tertentu terhadap yang lain, hoax dimana-mana, perjuangan mempertahankan apa yang diyakini benar, fitnah merajalela, dualisme hati yang tak terkontrol, dan sebagainya (terlihat sebagai peristiwa yang campur aduk). Bagaimana dengan ke dua paslon? Apakah mereka diam? Tidak! Mereka adalah pribadi yang proaktif meyakinkan masyarakat bahwa pasangan mereka layak menjadi pribadi yang melayani masyarakat menjadi sejahtera, membangun masyarakat dan lingkungan, memberantas para koruptor – mafia, memberi solusi terhadap bencana alam, serta  menjadi teladan yang patut dicontohi.

Tentu hal ini tidak akan menjadi fakta jika belum terealisasikan. Tidak salah bagi kita jika mengharapkan sesuatu kepada gubernur yang akan terpilih, bahkan ini suatu kewajiban bagi masyarakat untuk mengawal apa yang telah gubernur mulai (visi misi – janji – program, dan sebagainya) menjadi sesuatu yang berdampak.

Siapa pun gubernur yang akan dipercayakan oleh masyarakat DKI untuk memimpin sebuah kota yang penuh harapan dan gambaran masa depan Indonesia. Bagi dua calon yang sebentar lagi ditentukan oleh masyarakat DKI Jakarta, harapan saya sebagai blogger menyampaikan agar:

  1. mengenal “Siapa saya” di antara masyarakat DKI, kepada “Siapa saya bekerja”, dan “Tujuan saya melakukan” pekerjaan yang dipercayakan.
  2. menjadi diri sendiri dalam memimpin DKI - memandang masyarakat bukan objek yang dirampas, melainkan pribadi-pribadi yang dilayani.
  3. menjadi pendamai antar berbagai golongan/sekte/kaum/partai, bukan sebagai pemisah.
  4. menjadi pribadi yang punya kasih serta bekerja secara bersih, transparan, dan profesional.
  5. menegakkan keadilan, kebenaran, dan tidak berpihak jika oknum tertentu benar-benar salah.
  6. mengimplementasikan prinsip Pancasila.

 

Angka tujuh adalah waktu (mengarah ke jam) memulai babak final untuk memilih siapa yang layak menurut masyarakat DKI. Pilihan sekarang hanya membutuhkan beberapa menit dalam mencoblos, namun dampaknya lima tahun ke depan dan tidak sangat sulit untuk diperbaiki.

Terlihat memang tidak mudah – bukan berarti tidak bisa. Cara instan bukanlah hal bijak, tapi proses itu sangat penting karena sesuatu yang dilakukan dengan instan, pada akhirnya juga akan mudah runtuh sehingga tidak merasa puas, tetapi jika kita menghargai proses – pada akhirnya kita akan mendapatkan esensi yang mungkin tidak pernah terbayangkan.

“Penyesalan tidak ada di akhir karena seorang yang dewasa tentu sudah memikirkan secara matang untuk bertindak terhadap apa yang diyakini benar”

~ Odaligõ Zega 


TAGS #Opini


-

Author

Jika kita memperhitungkan keinginan diri bahkan kebutuhan di saat orang sedang membutuhkan sesuatu, rasa ego itu muncul dan sulit dikendalikan jika belum mengenal "DIRI"

Follow Me

Search

Recent Post